Perkataan yang tepat dan baik seperti buah apel yang ditaruh pada piring perak dan menyukakan hati orang yang menerimanya.
Mengenai hal ini semua orang mengerti,tetapi kenapa begitu sulit untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Setiap hari kita berhubungan dengan sesama,berkomunikasi dan mungkin bercanda tawa,tetapi sering kali kita tidak menyadari bahwa perkataan kita telah melukai hati orang lain.
Apa yang akan saya sampaikan adalah kebenaran yang terus terjadi,dimana saya pribadi menyampaikan setiap makna dari apa yang menjadi pengalaman saya.
Perkataan adalah api dimana setiap dari kita bisa menggunakannya untuk tujuan yang benar atau tujuan yang salah,kita semua mengetahui bahwa api bisa menjadi pelayan yang baik untuk kita,sebagai terang,untuk memasak dan juga untuk memurnikan emas,tetapi di satu sisi api bisa menjadi malapetaka yang akan menghanguskan setiap pekerjaan baik kita.
Manusia yang bijak harus berusaha mengendalikan perkataannya,memang tidak mudah,karena perkataan itu seumpama air yang mengalir dari sumbernya yang tidak terbatas dan tidak akan bisa habis,karena hal inilah manusia tidak pernah takut menggunakan kata-katanya dengan sesuka hatinya,tapi yang sering kali dilupakan oleh manusia adalah akibat dari perkataannya.
Ketika kita berbicara dengan sesama,alangkah lebih baiknya jika kita berpikir terlebih dahulu,apakah perkataan kita tepat?
Apakah perkataan kita tidak menimbulkan permusuhan?
Apakah perkataan kita bisa menyakiti orang lain?
Pikirkanlah semua itu!
Pengajaran saya ini akan sedikit membosankan bagi anda yang bodoh dan tidak berpengetahuan,karena pikiran anda sudah dipenuhi onak dan duri tajam,yang membenci didikan dan pengetahuan.
Tetapi bagi orang bijak yang mencintai pengetahuan dan didikan,pengajaran saya akan seperti madu yang manis bagi langit-langit mulutnya.
Saya kembali diingatkan untuk menuliskan perkataan karena mempunyai dua dasar sebagai bahan acuan.
Pertama,saya mendengar dan melihat sendiri seorang pengajar spiritual yang gagal menguasai perkataannya akhirnya dibenci oleh orang-orang yang harusnya meneladani pengajar spiritual tersebut.
Kedua,berdasarkan pengalaman saya sendiri,banyak sekali kata-kata yang tidak saya pikirkan terlebih dahulu dengan niat bercanda,justru menimbulkan permusuhan.
Saya rasa dua sumber acuan tersebut bisa membuat pikiran kita semua terbuka,bahwa gesekan dengan sesama dalam hidup ini sekali waktu pasti akan terjadi,tetapi yang menjadi persoalan bukan gesekan itu sendiri,melainkan bagaimana kita bisa mengambil makna dari sebuah kejadian tersebut.
Pelajaran apa yang bisa kita ambil?
Bagaimana saya harus bertindak dengan lebih baik dan benar selanjutnya?
Sikap apa yang harus saya ambil jika suatu saat saya diperhadapkan situasi yang sama?
Ingatlah,dengan bertanya pada diri sendiri anda kan menemukan banyak sekali solusi dan jalan keluar,itulah kekuatan dari pertanyaan yang hebat.
Kembali ke perkataan,setiap dari kita harus menjadi tuan atas perkataannya,jika seseorang mempunyai penguasaan diri atas perkataannya maka orang tersebut cepat atau lambat akan mendapat upah yang baik.
Apakah upah itu?
Bahwa disetiap hubungannya dengan sesama seseorang yang mempunyai penguasaan diri atas perkataannya akan dibukakan pintu persahabatan yang akhirnya akan membawanya pada pintu utama menuju kemuliaan yang hanya disediakan untuk sedikit orang saja.
Kenapa hanya sedikit orang?
Bukankah seharusnya semua orang bisa?
Tentu saja semua orang akan berusaha melakukannya,tetapi sebagaimana peperangan yang dilakukan oleh seorang prajurit di medan tempur,hanya sedikit orang yang kembali pulang,itupun jika mereka menang dan tidak menjadi tawanan,jadi jika bicaramu hanya akan menimbulkan permusuhan maka diam itu lebih baik teman.
Mengenai hal ini semua orang mengerti,tetapi kenapa begitu sulit untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Setiap hari kita berhubungan dengan sesama,berkomunikasi dan mungkin bercanda tawa,tetapi sering kali kita tidak menyadari bahwa perkataan kita telah melukai hati orang lain.
Apa yang akan saya sampaikan adalah kebenaran yang terus terjadi,dimana saya pribadi menyampaikan setiap makna dari apa yang menjadi pengalaman saya.
Perkataan adalah api dimana setiap dari kita bisa menggunakannya untuk tujuan yang benar atau tujuan yang salah,kita semua mengetahui bahwa api bisa menjadi pelayan yang baik untuk kita,sebagai terang,untuk memasak dan juga untuk memurnikan emas,tetapi di satu sisi api bisa menjadi malapetaka yang akan menghanguskan setiap pekerjaan baik kita.
Manusia yang bijak harus berusaha mengendalikan perkataannya,memang tidak mudah,karena perkataan itu seumpama air yang mengalir dari sumbernya yang tidak terbatas dan tidak akan bisa habis,karena hal inilah manusia tidak pernah takut menggunakan kata-katanya dengan sesuka hatinya,tapi yang sering kali dilupakan oleh manusia adalah akibat dari perkataannya.
Ketika kita berbicara dengan sesama,alangkah lebih baiknya jika kita berpikir terlebih dahulu,apakah perkataan kita tepat?
Apakah perkataan kita tidak menimbulkan permusuhan?
Apakah perkataan kita bisa menyakiti orang lain?
Pikirkanlah semua itu!
Pengajaran saya ini akan sedikit membosankan bagi anda yang bodoh dan tidak berpengetahuan,karena pikiran anda sudah dipenuhi onak dan duri tajam,yang membenci didikan dan pengetahuan.
Tetapi bagi orang bijak yang mencintai pengetahuan dan didikan,pengajaran saya akan seperti madu yang manis bagi langit-langit mulutnya.
Saya kembali diingatkan untuk menuliskan perkataan karena mempunyai dua dasar sebagai bahan acuan.
Pertama,saya mendengar dan melihat sendiri seorang pengajar spiritual yang gagal menguasai perkataannya akhirnya dibenci oleh orang-orang yang harusnya meneladani pengajar spiritual tersebut.
Kedua,berdasarkan pengalaman saya sendiri,banyak sekali kata-kata yang tidak saya pikirkan terlebih dahulu dengan niat bercanda,justru menimbulkan permusuhan.
Saya rasa dua sumber acuan tersebut bisa membuat pikiran kita semua terbuka,bahwa gesekan dengan sesama dalam hidup ini sekali waktu pasti akan terjadi,tetapi yang menjadi persoalan bukan gesekan itu sendiri,melainkan bagaimana kita bisa mengambil makna dari sebuah kejadian tersebut.
Pelajaran apa yang bisa kita ambil?
Bagaimana saya harus bertindak dengan lebih baik dan benar selanjutnya?
Sikap apa yang harus saya ambil jika suatu saat saya diperhadapkan situasi yang sama?
Ingatlah,dengan bertanya pada diri sendiri anda kan menemukan banyak sekali solusi dan jalan keluar,itulah kekuatan dari pertanyaan yang hebat.
Kembali ke perkataan,setiap dari kita harus menjadi tuan atas perkataannya,jika seseorang mempunyai penguasaan diri atas perkataannya maka orang tersebut cepat atau lambat akan mendapat upah yang baik.
Apakah upah itu?
Bahwa disetiap hubungannya dengan sesama seseorang yang mempunyai penguasaan diri atas perkataannya akan dibukakan pintu persahabatan yang akhirnya akan membawanya pada pintu utama menuju kemuliaan yang hanya disediakan untuk sedikit orang saja.
Kenapa hanya sedikit orang?
Bukankah seharusnya semua orang bisa?
Tentu saja semua orang akan berusaha melakukannya,tetapi sebagaimana peperangan yang dilakukan oleh seorang prajurit di medan tempur,hanya sedikit orang yang kembali pulang,itupun jika mereka menang dan tidak menjadi tawanan,jadi jika bicaramu hanya akan menimbulkan permusuhan maka diam itu lebih baik teman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar