Perkataan mempunyai jiwa yang mengusik tuannya

Setiap perkataan yang keluar dari mulut kita menjadi sesuatu.
Apakah sesuatu itu hal yang baik atau sebaliknya,tetapi yang paling penting adalah setiap perkataan bisa menjadi hakim yang benar dan tidak memihak,yang dakwaannya bisa membuat setiap pemilik perkataan menjadi kagum atau mungkin menjadi terancam.

Sejarah mengajarkan supaya manusia berhati-hati dalam perkataannya,karena hidup mati seseorang dikuasai oleh lidah,bahkan hikmat mengajarkan supaya kita mengenakan kekang pada lidah kita.
Peringatan-peringatan tersebut membuktikan bahwa perkataan menjadi salah satu hal penting yang penggunaannya membutuhkan penguasaan diri yang besar.
Perkataan mempunyai kedudukan yang sama dengan sex mengenai pengaruhnya dalam kehidupan manusia.
Perkataan dan sex merupakan pedang bermata dua yang sama-sama penting yang tidak bisa diurutkan berdasarkan pengaruhnya,karena setiap hal yang berpengaruh telah menjadi bagian penting dari terciptanya sebuah peradaban.
Sex menentukan kelangsungan hidup dan perkataan menjadi dasar setiap tindakan dan tujuan.
Manusia sejak dari semula telah ditetapkan untuk berkomunikasi,baik dengan Tuhan maupun mahluk hidup lainnya.
Komunikasi inilah yang mengantarkan kita pada peradaban modern saat ini,perkataan telah disampaikan secara lisan maupun tulisan dari generasi ke generasi berikutnnya,dengan perkataan baik lisan maupun tulisan penemuan maupun karya terus disempurnakan dari zaman ke zaman.
Lihatlah betapa perkataan menjadi sesuatu yang abadi,yang pengaruhnya juga abadi seperti jiwa yang tidak bisa mati.
Perkataan telah merubah segalanya,bahkan takdir seseorang.
Perkataan seperti mempunyai jiwanya sendiri,jiwa yang abadi dan menghakimi.
Manusia harus sadar akan hal ini,setiap perkataan yang telah keluar dari mulut seseorang akan menjadi sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan pemiliknya.
Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana dengan perkataan yang sia-sia atau tidak membangun?
Sama saja,perkataan apakah itu baik atau buruk akhirnya akan menjadi sama seperti sifat asalnya,bahkan semua itu tidak ada yang menjadi sia-sia,semuanya akan menjadi sesuatu.
Jika anda pernah melihat seseorang,berjanji atau bersumpah,sementara dia lupa untuk menepatinya,maka sumpah atau janji itu akan tetap mengejarnya,bahkan untuk mengingatkan orang tersebut akan janjinya,alam semesta akan turut campur.
Mungkin suatu kejadian akan mengingatkannya,mungkin juga temannya yang pernah mendengarnya berjanji akan mengingatkannya.
Banyak hal akan terjadi sampai dia menepati sumpah dan janjinya,karena itu setiap orang yang berpikir dan bijak tidak akan pernah bersumpah demi apapun,hanya iya dan tidak itu saja yang menjadi pilihan.
Perkataan pengharapan juga bekerja dengan cara yang sama.
Jika anda melihat seseorang mempunyai iman akan cita-cita dan orang tersebut memberitahu anda,tetapi kemudian orang tersebut melupakannya,maka apa yang diucapkan orang itu tidak akan sia-sia.
Apa yang diimaninya akan mengejarnya,suatu kejadian akan mengingatkannya akan cita-cita yang telah dilupakannya atau justru anda sendiri yang akan memberitahu orang tersebut akan cita-cita yang telah dilupakannya,sekali lagi banyak hal yang akan membuat orang tersebut kembali teringat cita-citanya dan berusaha meraihnya.
Selain itu banyak hal di kehidupan ini dimana perkataan sering menjadi batu sandungan pemiliknya,banyak yang bisa menjadi penasehat bagi orang lain,tetapi dirinya sendiri tidak bisa menerapkannya.
Sama seperti perumpamaan orang buta menuntun orang buta maka keduanya masuk kedalam lubang,begitu seseorang yang mengajarkan sesuatu tetapi dirinya sendiri tidak melakukan apa yang dia ajarkan.
Ketika seseorang mengatakan hal baik maka sesuatu yang baik pasti akan terjadi meskipun terkadang dalam prosesnya justru hal buruk yang kelihatannya akan terjadi,disini yang paling penting bagi kita adalah melihatnya berdasarkan hukum awal dan akhir.
Jika suatu perkataan baik dan benar terucap maka akhir dari semua itu adalah hal yang baik dan benar,begitu juga sebaliknya.
Sedangkan dalam prosesnya menjadi akhir, bisa saja sesuatu yang buruk yang kelihatannya terjadi,tetapi yang perlu anda percaya adalah akhir yang baik bukan proses perjalanannya yang kadang sedikit melemahkan.
Perkataan adalah pelayan yang bisa menjadikan anda mulia,tetapi bisa juga mengantarkan anda dengan setia kepada kehinaan.
Pemikiran ini telah ada untuk membebaskan anda dan mengantarkan anda pada kuil kebijaksanaan yang didalamnya penuh dengan hikmat yang menjadi terang bagi kegelapan.
Jalan kehidupan membutuhkan terang itu,tanpanya manusia akan tersesat,seperti kawanan domba tanpa gembala.
Sedangkan setiap mereka yang tidak mempunyai pengertian ini harus bersiap-siap melihat kejutan-kejutan yang dihadiahkan oleh kebodohan.
Biarlah semua orang yang menyadari bahwa perkataan mempunyai jiwa yang mengusik tuannya menjadi pribadi yang berpengertian,sehingga mulai saat ini mengenakan kekang pada lidahnya untuk memikirkan apa yang harus dikatakan,apakah itu bisa menjadi berkat atau kutuk dan mungkin saja berkat atau kutuk itu menimpa dirinya sendiri,siapa yang tahu?
Bukankah manusia tidak bisa menyelami seluruh hikmat Tuhan?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar