Dalam kehidupan yang semakin konsumtif dan terus berubah saya melihat adanya kebutuhan saya untuk mencari sebuah kebijaksanaan,saya tahu persis tempat dimana kebijaksanaan itu berada,saya telah mendengarnya sejak saya kecil ketika saya di gereja.
Saya telah mendengarnya diucapkan setiap hari minggu di rumah Tuhan.
Saya telah membacanya dengan mata dan kepala saya sendiri setiap malam menjelang tidur.
Saya sendiri terus haus akan kebijaksanaan,saya berusaha memperolehnya setiap saat,saya menginginkannya melebihi keinginan saya untuk makan dan minum.
Saya menginginkannya melebihi saya ingin tidur di malam hari.
Saya mempelajarinya dari setiap tokoh besar di dunia,saya membacanya dari buku-buku tua dan langka,saya menyusuri jejaknya sampai di zaman purbakala.
Saya menemukannya di syair-syair warisan para pujangga.
Semua itu saya lakukan hanya untuk satu pengharapan memperoleh kebijaksanaan.
Saat ini saya mengerti bahwa kebijaksanaan yang sejati itu berasal dari seni melihat ke dalam diri sendiri.
Mereka yang mencarinya akan menemukan bahwa kebijaksanaan yang benar mempunyai dasar yang sama yaitu di awali dari pengenalan akan Tuhan.
Dan akhirnya semua kebijaksaan telah menjadi pilar-pilar yang mengokohkan bangunan di dalam diri setiap orang yang memilikinya.
Pilar pertama dari kebijaksanaan adalah kepastian tujuan.
Mereka yang mempunyai kepastian tujuan adalah mereka yang telah menyadari siapa dirinya,dan untuk apa mereka berada di bumi ini,sehingga mereka akhirnya menemukan panggilan hidupnya.
Pilar kebijaksanaan kedua adalah penguasaan diri,dengan penguasaan diri setiap manusia bisa menjaga langkahnya dari jalan orang fasik dan terhindar dari jerat musuh,dengannya kita akan selamat.
Pilar kebijaksanaan ketiga adalah belajar dari kegagalan,artinya setiap kegagalan yang kita alami,akan membawa kita kepada pengertian,yang akhirnya akan menuntun kita kepada pengetahuan mengenai apa yang boleh dikerjakan dan apa yang tidak boleh dikerjakan,apa yang menguntungkan dan apa yang merugikan.
Pilar kebijaksanaan keempat adalah waktu.
Waktu adalah kehidupan itu sendiri,waktu adalah anugrah paling berharga dalam kehidupan,waktu tidak bisa di putar ulang,waktu akan menjadi penentu apakah seseorang akan menjadi pecundang atau pemenang dalam kehidupan.
Waktu adalah teman setia Allah untuk menghakimi umatNya.
Pilar kebijaksanaan kelima adalah hukum alam.
Alam semesta dengan segala keteraturannya memiliki hukum dan ketetapan yang pasti,hal inilah yang memungkinkan kita bisa menaklukan listrik,gravitasi,api,air,udara dan semua bentuk dan sifat alam untuk melayani kebutuhan kita dalam kehidupan.
Pilar kebijaksanaan keenam adalah lingkungan.
Makluk hidup dan segala kebiasaannya dibentuk oleh lingkungannya,inilah yang menjadikan makluk hidup mempunyai ciri-ciri dan sifat yang berbeda-beda sesuai dengan tempat dimana mereka berasal dan hidup.
Pilar kebijaksanaan ketujuh adalah kehati-hatian,jika kita tidak bertindak dengan perencanaan maka kita telah menjadi makluk yang lupa diri bahwa kita diciptakan Tuhan dengan akal budi.
Kehati-hatian adalah suatu bentuk kewaspadaan dan kepedulian kepada segala sesuatu yang belum kita ketahui dan pahami.
Kehati-hatian membuat kita berpikir sebelum melangkah dan menjaga kita dari pelanggaran hukum Tuhan dan hukum alam.
Pilar-pilar kebijaksanaan yang saya jelaskan di atas ibarat pilar pengokoh bagi sebuah bangunan,jika kita ingin terus membangun diri kita menjadi pribadi yang unggul dan berkualitas,menjadi pribadi yang layak dipakai Allah sebagai alat kemulianNya.
Menjadi pribadi yang akan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa sampai ke ujung-ujung bumi,maka pilar-pilar kebijaksanaan tersebut harus menjadi bagian dari diri kita.
Saya telah mendengarnya diucapkan setiap hari minggu di rumah Tuhan.
Saya telah membacanya dengan mata dan kepala saya sendiri setiap malam menjelang tidur.
Saya sendiri terus haus akan kebijaksanaan,saya berusaha memperolehnya setiap saat,saya menginginkannya melebihi keinginan saya untuk makan dan minum.
Saya menginginkannya melebihi saya ingin tidur di malam hari.
Saya mempelajarinya dari setiap tokoh besar di dunia,saya membacanya dari buku-buku tua dan langka,saya menyusuri jejaknya sampai di zaman purbakala.
Saya menemukannya di syair-syair warisan para pujangga.
Semua itu saya lakukan hanya untuk satu pengharapan memperoleh kebijaksanaan.
Saat ini saya mengerti bahwa kebijaksanaan yang sejati itu berasal dari seni melihat ke dalam diri sendiri.
Mereka yang mencarinya akan menemukan bahwa kebijaksanaan yang benar mempunyai dasar yang sama yaitu di awali dari pengenalan akan Tuhan.
Dan akhirnya semua kebijaksaan telah menjadi pilar-pilar yang mengokohkan bangunan di dalam diri setiap orang yang memilikinya.
Pilar pertama dari kebijaksanaan adalah kepastian tujuan.
Mereka yang mempunyai kepastian tujuan adalah mereka yang telah menyadari siapa dirinya,dan untuk apa mereka berada di bumi ini,sehingga mereka akhirnya menemukan panggilan hidupnya.
Pilar kebijaksanaan kedua adalah penguasaan diri,dengan penguasaan diri setiap manusia bisa menjaga langkahnya dari jalan orang fasik dan terhindar dari jerat musuh,dengannya kita akan selamat.
Pilar kebijaksanaan ketiga adalah belajar dari kegagalan,artinya setiap kegagalan yang kita alami,akan membawa kita kepada pengertian,yang akhirnya akan menuntun kita kepada pengetahuan mengenai apa yang boleh dikerjakan dan apa yang tidak boleh dikerjakan,apa yang menguntungkan dan apa yang merugikan.
Pilar kebijaksanaan keempat adalah waktu.
Waktu adalah kehidupan itu sendiri,waktu adalah anugrah paling berharga dalam kehidupan,waktu tidak bisa di putar ulang,waktu akan menjadi penentu apakah seseorang akan menjadi pecundang atau pemenang dalam kehidupan.
Waktu adalah teman setia Allah untuk menghakimi umatNya.
Pilar kebijaksanaan kelima adalah hukum alam.
Alam semesta dengan segala keteraturannya memiliki hukum dan ketetapan yang pasti,hal inilah yang memungkinkan kita bisa menaklukan listrik,gravitasi,api,air,udara dan semua bentuk dan sifat alam untuk melayani kebutuhan kita dalam kehidupan.
Pilar kebijaksanaan keenam adalah lingkungan.
Makluk hidup dan segala kebiasaannya dibentuk oleh lingkungannya,inilah yang menjadikan makluk hidup mempunyai ciri-ciri dan sifat yang berbeda-beda sesuai dengan tempat dimana mereka berasal dan hidup.
Pilar kebijaksanaan ketujuh adalah kehati-hatian,jika kita tidak bertindak dengan perencanaan maka kita telah menjadi makluk yang lupa diri bahwa kita diciptakan Tuhan dengan akal budi.
Kehati-hatian adalah suatu bentuk kewaspadaan dan kepedulian kepada segala sesuatu yang belum kita ketahui dan pahami.
Kehati-hatian membuat kita berpikir sebelum melangkah dan menjaga kita dari pelanggaran hukum Tuhan dan hukum alam.
Pilar-pilar kebijaksanaan yang saya jelaskan di atas ibarat pilar pengokoh bagi sebuah bangunan,jika kita ingin terus membangun diri kita menjadi pribadi yang unggul dan berkualitas,menjadi pribadi yang layak dipakai Allah sebagai alat kemulianNya.
Menjadi pribadi yang akan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa sampai ke ujung-ujung bumi,maka pilar-pilar kebijaksanaan tersebut harus menjadi bagian dari diri kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar