Pernahkah anda mengalami ketika anda diberi kesempatan untuk menjadi pemimpin dalam sebuah organisasi apapun itu,tetapi anda menolak karena anda merasa belum mampu?
atau mungkin pernah ada saudara anda
sendiri atau orang lain yang meminta bantuan atau meminjam sesuatu kepada anda,tetapi anda tawar hati dan merasa tidak mampu melakukannya karena merasa anda sendiri masih serba kurang?
Jika jawaban anda "YA,, saya pernah mengalaminya",berarti tulisan ini tepat untuk anda baca.
Tahukah anda ketika anda tawar hati ketika orang lain memandang anda mampu,sebenarnya anda sedang menolak kebaikan datang kepada anda,karena setiap hal yang ditujukan kepada anda dalam bentuk apapun semuanya itu memiliki sebuah dasar dan tujuan pasti.
Contohnya ketika anda ditunjuk untuk menjadi pemimpin sebuah organisasi,bukankah orang lain memiliki prasangka baik kepada anda,orang lain telah melihat dasar-dasar yang kuat didalam diri anda yang cocok untuk menjadi seorang pemimpin dengan tanggung jawab yang lebih besar,tetapi masalahnya justru berada pada diri anda sendiri,anda menolaknya karena anda tidak bisa melihat kualitas dan kemampuan yang anda miliki sendiri.
Seharusnya anda menjadikan anggapan orang lain tersebut sebagai tolak ukur kemampuan dan kepantasan anda,sehingga jika ada kesempatan kedua tawaran untuk menjadi pemimpin atau ada saudara yang meminta bantuan kepada anda,katakan "ya saya siap,saya akan melakukannya sesuai dengan kemampuan saya."
Sekarang bagaimana ketika anda dianggap kaya oleh orang lain atau keluarga anda sendiri,sehingga suatu kali ketika mereka mengalami kesulitan mereka datang kepada anda,padahal saat itu anda merasa keuangan anda sendiri sedang tidak baik,apakah yang akan anda lakukan?
menolak atau berusaha membantunya?
Apakah anda masih bingung dan khawatir untuk menjawab "Ya,, saya akan membantu sesuai kemampuan saya."
Dari contoh diatas,kita bisa melihat betapa miskinnya kita didalam mental,betapa seringnya kita menolak orang yang meminta bantuan kepada kita,dengan alasan kita sendiri masih belum cukup,bukankah sebagai manusia kita diajarkan untuk saling tolong-menolong,tetapi kenapa kita sulit mempraktekannya dalam kehidupan yang sesungguhnya,terlebih untuk orang tua,seharusnya anda malu jika memberi nasehat baik kepada anak-anak,tetapi anda sendiri tidak menghidupi nasehat anda sendiri.
Baiklah dari situ anda belajar bahwa setiap anggapan orang lain adalah tolak ukur kemampuan dan kepantasan anda,jadi berusahalah menolong orang yang meminta bantuan kepada anda,tidak peduli itu menjadi pemimpin ataupun meminta uang kepada anda,yang jelas usaha anda adalah jawaban terbaik,sekalipun anda tidak bisa membantu sepenuhnya sesuai dengan harapan,tetapi usaha anda yang maksimal lebih dari cukup.
atau mungkin pernah ada saudara anda
sendiri atau orang lain yang meminta bantuan atau meminjam sesuatu kepada anda,tetapi anda tawar hati dan merasa tidak mampu melakukannya karena merasa anda sendiri masih serba kurang?
Jika jawaban anda "YA,, saya pernah mengalaminya",berarti tulisan ini tepat untuk anda baca.
Tahukah anda ketika anda tawar hati ketika orang lain memandang anda mampu,sebenarnya anda sedang menolak kebaikan datang kepada anda,karena setiap hal yang ditujukan kepada anda dalam bentuk apapun semuanya itu memiliki sebuah dasar dan tujuan pasti.
Contohnya ketika anda ditunjuk untuk menjadi pemimpin sebuah organisasi,bukankah orang lain memiliki prasangka baik kepada anda,orang lain telah melihat dasar-dasar yang kuat didalam diri anda yang cocok untuk menjadi seorang pemimpin dengan tanggung jawab yang lebih besar,tetapi masalahnya justru berada pada diri anda sendiri,anda menolaknya karena anda tidak bisa melihat kualitas dan kemampuan yang anda miliki sendiri.
Seharusnya anda menjadikan anggapan orang lain tersebut sebagai tolak ukur kemampuan dan kepantasan anda,sehingga jika ada kesempatan kedua tawaran untuk menjadi pemimpin atau ada saudara yang meminta bantuan kepada anda,katakan "ya saya siap,saya akan melakukannya sesuai dengan kemampuan saya."
Sekarang bagaimana ketika anda dianggap kaya oleh orang lain atau keluarga anda sendiri,sehingga suatu kali ketika mereka mengalami kesulitan mereka datang kepada anda,padahal saat itu anda merasa keuangan anda sendiri sedang tidak baik,apakah yang akan anda lakukan?
menolak atau berusaha membantunya?
Apakah anda masih bingung dan khawatir untuk menjawab "Ya,, saya akan membantu sesuai kemampuan saya."
Dari contoh diatas,kita bisa melihat betapa miskinnya kita didalam mental,betapa seringnya kita menolak orang yang meminta bantuan kepada kita,dengan alasan kita sendiri masih belum cukup,bukankah sebagai manusia kita diajarkan untuk saling tolong-menolong,tetapi kenapa kita sulit mempraktekannya dalam kehidupan yang sesungguhnya,terlebih untuk orang tua,seharusnya anda malu jika memberi nasehat baik kepada anak-anak,tetapi anda sendiri tidak menghidupi nasehat anda sendiri.
Baiklah dari situ anda belajar bahwa setiap anggapan orang lain adalah tolak ukur kemampuan dan kepantasan anda,jadi berusahalah menolong orang yang meminta bantuan kepada anda,tidak peduli itu menjadi pemimpin ataupun meminta uang kepada anda,yang jelas usaha anda adalah jawaban terbaik,sekalipun anda tidak bisa membantu sepenuhnya sesuai dengan harapan,tetapi usaha anda yang maksimal lebih dari cukup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar