Siapa aku di dalam diri ?

Ribuan tahun kehidupan manusia sepanjang peradaban,tidak sedikit orang yang mencari jawaban,siapa sebenarnya aku di dalam diri ini.
Setiap pemikiran hebat yang pernah terjadi yang menciptakan sebuah perubahan adalah hasil dari pengenalan ini,sepertinya agak membingungkan jika kita mencari jawaban ini kepada orang-orang yang tidak berpikir dan ilmiah,mereka bisa saja para peramal,tukang sihir,dan orang-orang yang percaya tahyul.
Namun sepertinya orang-orang seperti itulah yang dipercaya para raja zaman dahulu,sampai muncul seseorang yang membawa ajaran sejatinya.
Orang ini telah membawa dan menggiring setiap orang untuk mengenal kembali siapa dirinya,tanpa harus percaya tahyul dan dongeng-dongeng kosong.
Orang tersebut adalah para pemikir sejati yang mendedikasikan hidup dan minatnya terhadap hukum-hukum pasti.
Setelah pencarian yang panjang,maka mereka berjuang dengan gigih untuk mengajarkan buah pemikirannya kepada setiap orang yang peduli terhadap hukum-hukum alam yang pasti,yang secara tidak langsung adalah replika dari kehidupan sejati itu sendiri.
Hukum-hukum inilah yang mendasari pengenalan akan diri,yang mendasari setiap pemikiran akurat yang pernah ada.
Lalu siapakah aku di dalam diri ini?
Mengutip alkitab bahwa "Aku adalah Aku."
Aku bukanlah tubuh fisik ini dan aku bukanlah pikiran,keduanya adalah alat yang digunakan aku untuk berimajinasi,mencipta dan bertindak sesuai keinginan aku.
Aku adalah sesuatu yang spiritual yang mempunyai kecerdasan tidak terbatas.
Aku selalu bergerak,tidak membiarkan kekosongan terjadi,setiap ruang yang kosong harus terisi dan aku adalah keabadian.
Aku tidak menerima perintah,karena aku sumber dari segala perintah,aku adalah kekuatan,sumber kekayaan,kebesaran dan kemuliaan.
Aku adalah spirit dari segala sesuatu,aku adalah aku.

Setiap pemikiran sejati mengartikan aku sebagai bagian dari kesempurnaan,aku di dalam setiap individu adalah bagian dari Aku yang universal dan tidak terbatas,jika aku didalam individu adalah bagian dari kesempurnaan yang tidak terbatas,sudah sepantasnya aku di dalam individu mempunyai kualitas yang sama dengan Aku yang universal dan yang sempurna.
Jika memang benar demikian,sudah menjadi kewajiban bagi mereka yang berpikir,bahwa mereka adalah sesuatu yang spirit,cerdas dan yang sempurna,jika masih ada sesuatu yang tidak selaras menjadi bagian dari diri mereka,itu adalah akibat dari gagalnya pengenalan diri.
Jika itu yang terjadi hanya ada satu cara untuk kembali mendapatkan hak kepemilikan mereka,yaitu kesadaran akan diri,bahwa aku di dalam diri adalah bagian dari Aku yang sempurna dan yang tidak terbatas.
Jadi tidak ada lagi batasan bagi individu yang mengenali aku di dalam dirinya,dan akibatnya ingin menjadi apapun mereka pasti bisa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar